Kehadiran Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan menawarkan berbagai kemudahan, namun di sisi lain mulai memicu kekhawatiran serius terkait perkembangan kognitif peserta didik. Laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan adanya tren penurunan kemampuan literasi membaca pada anak usia sekolah di berbagai negara, di mana ketergantungan berlebihan pada teknologi AI diidentifikasi sebagai salah satu faktor utamanya.
Kepraktisan platform AI generatif yang mampu memproses data dan menghasilkan teks instan telah mengubah kebiasaan belajar siswa. Banyak pelajar kini mengandalkan AI untuk membuat ringkasan buku, menjawab soal-soal latihan, hingga menyusun esai tanpa perlu membaca sumber aslinya secara utuh. Akibatnya, aktivitas membaca mendalam (deep reading) makin jarang dilakukan, dan siswa cenderung hanya membaca sepintas (skimming) untuk mendapatkan jawaban cepat tanpa benar-benar memahami konteks secara komprehensif.
Kondisi ini berdampak langsung pada tumpulnya pemikiran kritis (critical thinking) dan daya analisis anak muda. Tanpa kebiasaan membaca teks yang kompleks dan panjang, siswa kesulitan melatih logika, mengevaluasi kebenaran informasi, serta menyusun argumen yang mandiri. OECD dan para praktisi pendidikan pun menekankan bahwa AI tidak boleh dijadikan jalan pintas dalam belajar. Pendidik diimbau untuk membatasi penggunaan AI dalam tugas-tugas dasar dan mengembalikan fokus pembelajaran pada penguatan literasi manual, diskusi kritis, serta pemahaman materi secara mandiri.
JAVATEKNO
Ryan