Kemenperin Gandeng Dua Startup Lokal untuk Akselerasi Teknologi Kebencanaan Berbasis Industri 4.0
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat penerapan teknologi digital industri 4.0 untuk mendukung penanganan bencana di Indonesia. Langkah ini direalisasikan dengan merangkul perusahaan rintisan (startup) lokal guna memperkuat aspek mitigasi, pemetaan, hingga pemulihan wilayah pascabencana.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa transformasi digital harus memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan teknologi perlu dibarengi dengan kesadaran dan perubahan mindset digital agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.
Sebagai pusat inovasi teknologi manufaktur nasional, Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) milik Kemenperin kini telah menjalin kemitraan dengan 65 lembaga, mulai dari pelaku industri, penyedia teknologi, asosiasi, hingga perguruan tinggi.
Plt. Kepala BPSDMI, Adie Rochmanto Pandiangan, menjelaskan bahwa PIDI 4.0 saat ini berkolaborasi dengan dua startup yang fokus pada solusi kebencanaan, yaitu:
-
TechnoGIS (Sleman, Yogyakarta): Mengembangkan pesawat nirawak NiVO VTOL untuk pemetaan cepat di area terdampak bencana, serta Blue Marine Echosounder untuk mendeteksi patahan bawah laut dan mengantisipasi luapan air sungai.
-
BATARI Energy (Cimahi, Jawa Barat): Menyediakan panel surya portabel sebagai penyedia listrik darurat di lokasi bencana, serta baterai berkapasitas tinggi untuk mendukung operasional pemetaan udara via drone.
Guna membantu memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat internasional (business-to-business), Kemenperin turut memfasilitasi kedua startup tersebut untuk tampil dalam ajang Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 yang diselenggarakan oleh BNPB di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
JAVATEKNO
Ryan