Bloomberg Technoz, Jakarta – Intel dikabarkan sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali terjun ke bisnis produksi memori. Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya permintaan terhadap chip memori yang digunakan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Intel dan produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix, tengah melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan produksi chip memori di Amerika Serikat.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah SK Hynix menyewa sebagian fasilitas manufaktur Intel yang saat ini sedang dibangun di Ohio. Selain itu, terdapat pula kemungkinan pembentukan perusahaan patungan yang melibatkan Intel, SK Hynix, dan perusahaan cloud yang membutuhkan pasokan memori dalam jumlah besar.
Pembicaraan antara kedua perusahaan tersebut masih berada pada tahap awal. Hingga saat ini belum ada keputusan final mengenai bentuk kerja sama maupun jenis memori yang nantinya akan diproduksi, seperti dilansir dari The Daily Upside, Kamis (17/9/2026).
Di sisi lain, SK Hynix mengatakan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi berbagai pilihan untuk memperkuat daya saing bisnis memorinya. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membangun basis produksi tambahan. Namun, perusahaan menegaskan bahwa belum terdapat rencana maupun kesepakatan khusus yang telah ditetapkan.
SK Hynix juga menyampaikan bahwa terdapat kemungkinan untuk menyewa sebagian fasilitas produksi chip Intel yang telah lama direncanakan di Ohio atau membentuk usaha patungan bersama Intel dan sejumlah perusahaan cloud computing, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News.
“Kami ingin mengklarifikasi bahwa belum ada keputusan final terkait kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tertentu yang disebutkan dalam artikel tersebut atau produksi chip memori di Amerika Serikat. SK Hynix sedang menjajaki berbagai opsi untuk memperkuat daya saing globalnya, namun belum ada rencana atau kesepakatan spesifik yang telah disepakati hingga saat ini,” jelas SK Hynix.
Sementara itu, Intel juga belum memberikan konfirmasi mengenai rencana tersebut. Perusahaan menyebut informasi tersebut masih berupa spekulasi, meskipun Intel tetap melanjutkan investasi untuk mempersiapkan fasilitas manufakturnya di Ohio.
CEO Intel, Lip-Bu Tan, sebelumnya menekankan pentingnya perusahaan untuk fokus pada bidang yang memiliki potensi kepemimpinan teknologi, termasuk teknologi pengemasan canggih. Di sisi lain, Intel juga dinilai perlu membangun kemitraan pada bidang yang memiliki keunggulan teknologi di pihak lain, menurut analis Citigroup Atif Malik, Elizabeth Sun, dan James Bowlin.
Memori Pernah Menjadi Bisnis Awal Intel
Bisnis memori memiliki sejarah penting bagi Intel karena menjadi salah satu bidang usaha pertama perusahaan tersebut. Intel mulai memproduksi chip memori sejak era 1960-an. Namun, seiring berjalannya waktu, Intel mengurangi keterlibatannya dalam bisnis memori dan kemudian menjual bisnis NAND flash kepada SK Hynix.
Transaksi tersebut bernilai sekitar US$9 miliar atau setara dengan Rp149 triliun. Proses transaksi mulai dilakukan pada 2020 dan akhirnya diselesaikan pada 2025.
Wacana untuk kembali memasuki bisnis memori muncul ketika industri semikonduktor sedang menghadapi peningkatan permintaan yang sangat besar akibat pembangunan pusat data berbasis AI. SK Hynix sendiri merupakan salah satu produsen utama DRAM dan NAND flash serta menjadi salah satu pemasok utama high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan bersama prosesor AI.
HBM menjadi komponen penting dalam sistem komputasi AI karena mampu menyediakan bandwidth data yang tinggi sehingga dapat mendukung proses pengolahan model AI dengan kebutuhan data yang besar.
Meningkatnya kebutuhan dari perusahaan AI dan pusat data turut membuat pasokan memori semakin ketat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan teknologi dan penyedia layanan cloud untuk berupaya mengamankan ketersediaan chip memori demi memenuhi kebutuhan komputasi mereka.
Menurut Reuters, salah satu skenario yang sedang dibicarakan adalah melibatkan perusahaan cloud dalam pembentukan perusahaan patungan bersama Intel dan SK Hynix. Skema tersebut berpotensi memberikan kepastian pasokan memori bagi perusahaan cloud sekaligus memungkinkan Intel memanfaatkan fasilitas manufakturnya yang berada di Ohio.
Meski demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti jenis memori yang nantinya akan diproduksi. Produk yang dimiliki SK Hynix mencakup DRAM, NAND flash, dan HBM. Rencana produksi HBM atau DRAM di Amerika Serikat juga berpotensi mendapatkan pemeriksaan dari pemerintah Korea Selatan karena teknologi tersebut dapat masuk dalam kategori teknologi inti nasional.
Selain rencana fasilitas di Ohio, SK Hynix juga tengah membangun fasilitas baru dengan nilai investasi sekitar US$4 miliar di Indiana. Fasilitas tersebut akan difokuskan sebagai pusat pengemasan HBM dan ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2029.
Berbeda dengan rencana produksi di Ohio, fasilitas SK Hynix di Indiana merupakan fasilitas back-end. Fasilitas tersebut akan menggunakan DRAM yang kemudian diproses dan dikemas menjadi produk HBM untuk memenuhi kebutuhan industri AI yang terus berkembang.
JAVATEKNO
Ryan