Investasi Robotika ASEAN Melonjak 13 Kali Lipat, Singapura Jadi Motor Utama

JAVATEKNO MITRA SOLUSI - Investasi Robotika ASEAN Melonjak 13 Kali Lipat, Singapura Jadi Motor Utama
Investasi di sektor robotika Asia Tenggara mencatat lonjakan tajam sepanjang 2026, dengan nilai pendanaan year-to-date mencapai US$696 juta atau sekitar Rp12,3 triliun. Singapura menjadi pusat utama pertumbuhan tersebut dengan menyumbang lebih dari 90% total pendanaan kawasan. Salah satu pendorong terbesar adalah Sharpa yang berhasil memperoleh pendanaan US$670 juta dalam putaran Series D. Meski investasi meningkat pesat, ekosistem robotika ASEAN masih berada pada tahap awal karena belum memiliki perusahaan berstatus unicorn dan aktivitas exit masih sangat terbatas.

Investasi Robotika di Asia Tenggara Melonjak

Industri robotika di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan pendanaan yang sangat pesat sepanjang 2026. Nilai investasi yang masuk ke sektor ini tercatat melonjak lebih dari 13 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh masuknya pendanaan dalam jumlah besar ke perusahaan-perusahaan robotika yang berbasis di Singapura.

Berdasarkan laporan Robotics – SEA Report yang diterbitkan Tracxn Technologies Limited pada September 2026, perusahaan robotika di Asia Tenggara secara keseluruhan telah mengumpulkan pendanaan ekuitas sebesar US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,4 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.608 per dolar AS. Dari jumlah tersebut, pendanaan yang dihimpun sejak awal 2026 hingga saat ini mencapai US$696 juta atau sekitar Rp12,3 triliun.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan total pendanaan sepanjang 2025 yang hanya mencapai US$52 juta atau sekitar Rp915,6 miliar. Dengan demikian, nilai pendanaan robotika di kawasan Asia Tenggara pada 2026 telah meningkat sekitar 13,4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendanaan Robotika Tumbuh Fluktuatif

Perkembangan pendanaan sektor robotika di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang cukup berfluktuasi. Pada 2021, perusahaan robotika di kawasan tersebut mengumpulkan sekitar US$10,2 juta atau Rp180 miliar.

Setahun kemudian, nilainya meningkat cukup signifikan menjadi US$94 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Namun, tren positif tersebut tidak berlanjut pada 2023. Pendanaan turun menjadi US$19,9 juta, atau sekitar Rp350,4 miliar.

Pada 2024, nilai investasi kembali meningkat menjadi US$36,6 juta atau Rp644,5 miliar. Pertumbuhan berlanjut pada 2025 ketika total pendanaan mencapai US$52 juta. Lonjakan terbesar kemudian terjadi pada 2026, ketika nilai pendanaan year-to-date telah mencapai US$696 juta.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap teknologi robotika di Asia Tenggara meningkat secara signifikan. Namun, besarnya nilai investasi pada 2026 juga sangat dipengaruhi oleh adanya satu putaran pendanaan dalam skala besar di Singapura.

Singapura Menjadi Motor Pertumbuhan

Singapura menjadi negara yang paling dominan dalam ekosistem pendanaan robotika Asia Tenggara. Menurut data Tracxn, perusahaan robotika yang berbasis di Singapura menyumbang sekitar 91,7% dari total pendanaan sektor robotika di kawasan.

Secara keseluruhan, perusahaan robotika Singapura telah mengumpulkan sekitar US$986 juta atau Rp17,4 triliun melalui 58 putaran pendanaan.

Dominasi Singapura juga terlihat dari jumlah perusahaan yang dikembangkan di negara tersebut. Dari total 242 perusahaan robotika yang dilacak Tracxn di Asia Tenggara, sebanyak 108 perusahaan berada di Singapura. Dari jumlah tersebut, 37 perusahaan tercatat telah mendapatkan pendanaan.

Posisi Singapura sebagai pusat pendanaan robotika kawasan tidak hanya terlihat dari jumlah perusahaan, tetapi juga dari besarnya nilai investasi yang berhasil dihimpun sejumlah perusahaan teknologi robotika.

Sharpa Mendapat Pendanaan Terbesar

Salah satu perusahaan yang menjadi penyumbang utama lonjakan pendanaan pada 2026 adalah Sharpa. Perusahaan tersebut memperoleh pendanaan sebesar US$670 juta atau sekitar Rp11,8 triliun melalui putaran Series D pada Agustus 2026.

Nilai tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan perkembangan pendanaan robotika di kawasan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pendanaan Sharpa seorang diri lebih tinggi daripada total pendanaan sektor robotika Asia Tenggara yang tercatat pada setiap tahun sebelum 2026.

Selain Sharpa, perusahaan robotika lain yang mencatat pendanaan besar di Singapura adalah Fourier Intelligence dan Neptune Robotics.

Fourier Intelligence tercatat telah menghimpun sekitar US$83 juta atau Rp1,5 triliun, sedangkan Neptune Robotics mengumpulkan sekitar US$69,5 juta atau Rp1,2 triliun.

Besarnya pendanaan yang diterima sejumlah perusahaan tersebut memperlihatkan bahwa Singapura memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk angka investasi robotika Asia Tenggara secara keseluruhan.

Negara ASEAN Lain Masih Tertinggal

Jika dibandingkan dengan Singapura, aktivitas investasi robotika di negara-negara Asia Tenggara lainnya masih relatif terbatas.

Di Malaysia, misalnya, sejumlah perusahaan robotika mencatat pendanaan dalam jumlah jutaan dolar. Salah satu perusahaan yang berada di Seri Kembangan memperoleh sekitar US$5 juta atau Rp88 miliar, sementara perusahaan di Johor Bahru mendapatkan sekitar US$3,7 juta atau Rp65 miliar.

Aktivitas pendanaan dengan nilai lebih kecil juga tercatat di Vietnam. Perusahaan yang berada di Chukai memperoleh sekitar US$281 ribu atau Rp4,9 miliar, sedangkan perusahaan di Tan Binh mendapatkan sekitar US$120 ribu atau Rp2,1 miliar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pusat pendanaan robotika di kawasan masih sangat terkonsentrasi di Singapura. Negara-negara ASEAN lainnya memang mulai membangun ekosistem robotika, tetapi skala investasi yang masuk masih jauh lebih kecil.

Belum Ada Perusahaan Robotika ASEAN Berstatus Unicorn

Meskipun nilai pendanaan mengalami lonjakan besar, ekosistem robotika Asia Tenggara belum menghasilkan perusahaan yang mencapai status unicorn, yakni perusahaan rintisan dengan valuasi sedikitnya US$1 miliar.

Tracxn mencatat hingga saat ini belum ada perusahaan robotika di Asia Tenggara yang berstatus unicorn. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan investasi belum secara otomatis berarti perusahaan-perusahaan di sektor ini telah mencapai kematangan bisnis dan valuasi yang sangat tinggi.

Aktivitas exit juga masih relatif minim. Hingga September 2026, sektor robotika Asia Tenggara baru mencatat satu transaksi akuisisi dan belum memiliki perusahaan robotika yang melakukan penawaran saham perdana atau IPO.

Satu-satunya transaksi akuisisi yang tercatat adalah Zimplistic, perusahaan di balik produk Rotimatic. Sebelum diakuisisi, Zimplistic telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$48,5 juta atau Rp854 miliar.

Pada Oktober 2020, Zimplistic diakuisisi oleh Light Ray Holdings. Namun, nilai transaksi akuisisi tersebut tidak diumumkan kepada publik.

Sebagian Besar Perusahaan Masih Berada di Tahap Awal

Data Tracxn juga memperlihatkan bahwa ekosistem robotika Asia Tenggara masih berada dalam fase pengembangan awal. Dari 242 perusahaan yang dipantau, hanya 51 perusahaan atau sekitar 21% yang telah memperoleh pendanaan institusional.

Jumlah perusahaan yang mampu melanjutkan ke tahap pendanaan lebih tinggi juga semakin sedikit. Sebanyak 22 perusahaan telah mencapai Series A atau tahap yang lebih tinggi. Kemudian, hanya sembilan perusahaan yang telah mencapai Series B atau lebih tinggi.

Untuk pendanaan Series C atau lebih tinggi, jumlahnya menyusut menjadi hanya lima perusahaan. Sementara itu, perusahaan yang berhasil mencapai Series D atau tahap di atasnya hanya berjumlah tiga perusahaan.

Data tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara jumlah perusahaan robotika yang bermunculan dengan jumlah perusahaan yang mampu berkembang hingga tahap pendanaan lanjutan.

Waktu Menuju Pendanaan Tahap Lanjutan

Tracxn juga mencatat bahwa perusahaan robotika di kawasan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk berkembang dari pendanaan awal menuju putaran investasi berikutnya.

Rata-rata perusahaan membutuhkan waktu sekitar 4,1 tahun sejak memperoleh pendanaan pertama untuk mencapai Series A atau tahap yang lebih tinggi. Untuk mencapai Series B atau lebih tinggi, rata-rata waktunya mencapai 5,5 tahun.

Lamanya proses tersebut mencerminkan karakteristik industri robotika yang berbeda dari sejumlah sektor teknologi digital lainnya. Pengembangan robot umumnya membutuhkan riset dan pengembangan, perangkat keras, pengujian, produksi, serta pengembangan teknologi yang memerlukan modal dan waktu.

Prospek Besar, tetapi Ekosistem Masih Berkembang

Lonjakan investasi pada 2026 menjadi indikasi meningkatnya perhatian investor terhadap teknologi robotika di Asia Tenggara. Namun, data pendanaan juga menunjukkan bahwa industri ini masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya matang.

Besarnya kontribusi Singapura menjadi faktor utama di balik kenaikan pendanaan kawasan. Putaran pendanaan Sharpa yang mencapai US$670 juta bahkan menjadi faktor yang sangat signifikan terhadap lonjakan nilai investasi secara keseluruhan pada 2026.

Di sisi lain, belum adanya unicorn, minimnya transaksi akuisisi, belum adanya IPO, serta sedikitnya perusahaan yang berhasil mencapai Series C dan Series D menunjukkan bahwa perjalanan industri robotika Asia Tenggara masih panjang.

Dengan semakin berkembangnya teknologi otomatisasi, kecerdasan buatan, manufaktur pintar, dan kebutuhan terhadap tenaga kerja berbasis teknologi, sektor robotika berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan industri teknologi di kawasan. Namun, perkembangan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengubah pendanaan awal menjadi produk, bisnis, dan ekspansi yang berkelanjutan.

Untuk saat ini, Singapura masih menjadi pusat utama ekosistem robotika ASEAN, baik dari sisi jumlah perusahaan maupun nilai pendanaan. Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya masih memiliki ruang yang besar untuk memperkuat ekosistem startup robotika dan menarik lebih banyak investasi ke sektor tersebut.



Penulis: Ryan
URL:
Headline: Investasi Robotika ASEAN Melonjak 13 Kali Lipat, Singapura Jadi Motor Utama
Tanggal Update: 16 Sep 2026

Berita Teknologi Dari Portal Lain

Kami juga menyajikan beragam berita dari portal berita lain untuk melengkapi berita di Laman Javatekno
2 tahun yang lalu
Cyber Week is here and the beauty deals are rolling in. Sitewide sales seems to be the new fad this holiday season: Kosas, Paula’s Choice and Glossier are all at least 20% off while bigger retailers such as Sephora and Ulta have deals on everything from Olapl…
Variety
2 tahun yang lalu
Black Friday is here, but there are often so many deals to choose from that it can get overwhelming. From electronics to home goods, beauty and wellness, to gifts, it’s hard to determine what items are actually worth buying on sale — and what’s just a bunch o…
Variety
2 tahun yang lalu
Maximize your views & exposure with these tried & true content distribution strategies that are recommended regardless of industry, audience or business.
Justcreative.com
2 tahun yang lalu
Black Friday is one of the best times of the year to pick out a new smart device. Whether you’re shopping for yourself or a loved one, plenty of deals are going around, and we’ve scoured the depths of Amazon UK to bring you the best tablet and smartwatch deal…
GSMArena.com
2 tahun yang lalu
In order to defy climate change and the bark beetle, more deciduous trees are being planted in Swiss forests. If possible, their wood should be used several times before it ends up as firewood, thus releasing the previously bound CO? back into the atmosphere.…
Phys.Org
2 tahun yang lalu
A Curtin University study has revealed that a new method of capturing DNA could provide farmers with a valuable tool for boosting crop production—while also benefiting the environment.
Phys.Org

Informasi

investasi-robotika-asean-melonjak-13-kali-lipat-singapura-jadi-motor-utama
Startup
Ryan
16 Sep 2026
12 kali

Berita Lainnya
Dalam kategori yang sama

JAVATEKNO - Inovasi Bencana Karya Kampus Lokal Mejeng di ADEXCO 2026
Inovasi Bencana Karya Kampus Lokal Mejeng di ADEXCO 2026
Berita ini mengulas partisipasi tiga perguruan tinggi Indonesia—Universitas Gadjah Mada (UGM), Uni ...
JAVATEKNO - Revolusi Tanpa Henti: Menelusuri Perkembangan Kecerdasan Buatan di Panggung Dunia
Revolusi Tanpa Henti: Menelusuri Perkembangan Kecerdasan Buatan di Panggung Dunia
Kecerdasan Buatan (AI) telah bertransformasi dari sistem kaku menjadi era generative AI dan LLM yang ...
JAVATEKNO - Aplikasi Lokal Siap Go International Lewat Ajang IN-Apps 2026
Aplikasi Lokal Siap Go International Lewat Ajang IN-Apps 2026
Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan IN-Apps 2026 sebagai wadah kolaborasi bagi pengembang aplik ...
JAVATEKNO - Astranauts 2025: Cetak Inovator Muda dan Dorong Pertumbuhan Startup Lokal
Astranauts 2025: Cetak Inovator Muda dan Dorong Pertumbuhan Startup Lokal
PT Astra International Tbk. (ASII) mengumumkan para pemenang Astranauts 2025 yang digelar pada 16 Ju ...
JAVATEKNO - Ceo OpenAI Heran Orang Terlalu Percaya Chatgpt, Padahal Sering Berhalusinasi.
Ceo OpenAI Heran Orang Terlalu Percaya Chatgpt, Padahal Sering Berhalusinasi.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI seperti ChatGPT, CEO OpenAI Sam Altman justru mengungkapkan keh ...
JAVATEKNO - Electric Wheel, Startup Asal Bali yang Siap Dukung Emisi Nol dengan Kendaraan Listrik
Electric Wheel, Startup Asal Bali yang Siap Dukung Emisi Nol dengan Kendaraan Listrik
Electric Wheel, startup lokal dari Bali yang didirikan oleh I Gusti Ngurah Putra Darmagita, menghadi ...
JAVATEKNO - Menghubungkan Diaspora dan UMKM: Inovasi Lintas Batas Master Bagasi
Menghubungkan Diaspora dan UMKM: Inovasi Lintas Batas Master Bagasi
Master Bagasi, platform e-commerce lintas batas asal Indonesia, memudahkan diaspora menikmati produk ...
JAVATEKNO - Strategi MenkopUKM dalam Mendorong Startup Indonesia Menuju Pasar Internasional
Strategi MenkopUKM dalam Mendorong Startup Indonesia Menuju Pasar Internasional
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, memaparkan tiga tantangan utama yang harus dihadapi startup ...
JAVATEKNO - Pendidikan dan Teknologi, Strategi UMG Idealab untuk Indonesia Emas 2045
Pendidikan dan Teknologi, Strategi UMG Idealab untuk Indonesia Emas 2045
UMG Idealab berfokus pada pengembangan startup dan sumber daya manusia untuk mendukung visi Indonesi ...
JAVATEKNO - Kerja Sama Indonesia-Australia:
Kerja Sama Indonesia-Australia: "International Landing Pad" Membangun Ekosistem Startup Global
Living Lab Ventures bekerja sama dengan pemerintah New South Wales melalui program International Lan ...
JAVATEKNO - Pendanaan Terbaru OpenAI: Inovasi Besar, Kerugian Lebih Besar?
Pendanaan Terbaru OpenAI: Inovasi Besar, Kerugian Lebih Besar?
OpenAI sedang berusaha mengumpulkan miliaran dolar untuk mendukung inovasi AI, namun biaya operasion ...
JAVATEKNO - Kolaborasi Maybank dan Modalku: Membangun Masa Depan Keuangan UMKM di Asia Tenggara
Kolaborasi Maybank dan Modalku: Membangun Masa Depan Keuangan UMKM di Asia Tenggara
Maybank berkolaborasi dengan Funding Societies untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklu ...
JAVATEKNO - Kolaborasi Google dan Holocene Tingkatkan Solusi Teknologi Penangkapan Karbon
Kolaborasi Google dan Holocene Tingkatkan Solusi Teknologi Penangkapan Karbon
Google menjalin kemitraan dengan Holocene untuk mengembangkan teknologi penghilangan karbon, membant ...
WhatsApp