Tren Super Apps di Indonesia telah menjadi sangat populer dalam beberapa tahun terakhir. Super Apps merupakan aplikasi yang menyediakan beragam layanan dan fitur yang berbeda dalam satu platform, sehingga pengguna dapat mengakses berbagai layanan dengan mudah dan praktis.
Beberapa contoh Super Apps terkenal di Indonesia adalah Gojek dan Grab. Dengan awalnya hanya sebagai layanan ojek online, Gojek dan Grab telah berkembang menjadi Super Apps yang menyediakan layanan transportasi, pengiriman makanan, pembayaran digital, pengiriman barang, layanan keuangan, hingga reservasi hotel dan tiket acara.
Selain Gojek dan Grab, Traveloka turut meramaikan tren SuperApps di Indonesia. Namun, belakangan Traveloka tengah disorot karena menutup beberapa fiturnya, termasuk Traveloka Send dan Traveloka Eats pada Oktober 2022. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Perwakilan dari Traveloka menyatakan bahwa penutupan ini sejalan dengan prioritas dan rencana bisnis perusahaan.
Menurut Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro, tren Super Apps akan terus berlanjut selama kapasitas penyimpanan ponsel masih menjadi pertimbangan dalam pembelian perangkat smartphone.
Super Apps dapat berkembang di Asia, di mana kapasitas penyimpanan menjadi salah satu faktor utama dalam membeli ponsel, kata Eddi, pada Senin (31/7). Lain halnya dibanding Negara Eropa dan Amerika, mereka lebih menyukai data pribadi mereka di banyak perusahaan daripada hanya satu perusahaan atau Super Apps saja.
Salah satu pendiri dan Managing Partner Ideosource dan Gayo Capital, Edward Ismawan Chamdani, setuju bahwa Super Apps akan terus menjadi sumber daya yang dapat dikombinasikan dengan berbagai layanan yang berhubungan atau bersinggungan dengan berbagai jenis konsumen.
"Strategi ekonomi akan mempengaruhi kesuksesan Super App dalam mempertahankan pengguna yang setia dan mendukung Life Time Value (LTV) atau nilai seumur hidup dari setiap pelanggan." lanjutnya.
Hian Goh, pendiri dan mitra umum perusahaan modal ventura Openspace Ventures, mengingatkan perusahaan di Asia Tenggara untuk berhati-hati saat mendiversifikasi operasi mereka. Dia menyarankan agar perusahaan rintisan harus fokus pada membangun bisnis inti yang kuat sebelum mencoba masuk ke kategori industri lain.
Artinya, perusahaan sebaiknya berpikir dengan cermat dan mempertimbangkan konsekuensi dari langkah-langkah diversifikasi agar tidak menghadapi risiko atau masalah yang tidak diinginkan dalam pengembangan bisnis mereka. Hal ini bertujuan agar perusahaan memiliki basis pengguna yang kuat sebelum meluaskan jangkauan layanannya seperti yang dilakukan oleh aplikasi super terkenal seperti WeChat.
Secara keseluruhan, tren Super Apps di Asia Tenggara terutama Indonesia masih menjadi hal yang banyak diminati masyarakat. Dengan popularitas yang terus meningkat, tren Super Apps di Indonesia menawarkan berbagai layanan dan fitur yang berbeda dalam satu platform, seperti yang ditawarkan oleh Gojek, Grab, dan Traveloka.
Namun, perusahaan-perusahaan perlu berhati-hati dalam mendiversifikasi operasi mereka agar tidak menghadapi risiko atau masalah yang tidak diinginkan. Strategi ekonomi yang tepat dan fokus pada membangun bisnis inti yang kuat dapat membantu Super Apps untuk mempertahankan dan meningkatkan jumlah pengguna yang setia dan mendukung Life Time Value (LTV) atau nilai seumur hidup dari setiap pelanggan.
JAVATEKNO
Kharisma Muzayyana